Tips Parenting ·
Anak Menangis Saat HP Dimatikan? Ini Cara Membantu Transisi Screen Time
Berhenti menonton bisa terasa sulit bagi anak. Bantu si kecil beralih dari layar melalui batas yang jelas, pengingat, dan kegiatan pengganti yang menyenangkan.

“Lima menit lagi, ya!” Namun, ketika waktu menonton selesai, anak justru menangis atau marah. Situasi ini cukup akrab bagi banyak keluarga.
Anak masih belajar menghadapi kekecewaan dan berpindah dari kegiatan yang menyenangkan. Reaksi tersebut tidak otomatis berarti anak mengalami kecanduan. Orang tua dapat membantu melalui rutinitas yang lebih mudah dipahami.
Sepakati batas sebelum menonton
Sampaikan kapan kegiatan akan selesai dengan bahasa sederhana. Misalnya, “Kita menonton satu episode, lalu mandi.”
Pilih batas yang realistis dan usahakan semua pengasuh menerapkannya secara konsisten. Untuk anak yang lebih besar, libatkan mereka dalam menyusun aturan keluarga.
Berikan pengingat sebelum berhenti
Perubahan mendadak bisa terasa sulit. Beri pengingat menjelang waktu selesai atau gunakan timer jika membantu anak memahami pergantian kegiatan.
Pengingat bukan jaminan anak langsung menerima, tetapi dapat membuat transisi lebih dapat diprediksi.
Siapkan aktivitas berikutnya
Berikan pilihan sederhana, seperti, “Setelah menonton, kamu mau menggambar atau bermain balok?”
Kegiatan pengganti tidak harus rumit. Membaca buku, bergerak bersama, atau membantu menyiapkan camilan dapat menjadi pilihan sesuai situasi.
Akui perasaannya tanpa mengubah batas
Ayah dan Bunda dapat mengatakan, “Kamu masih ingin menonton, ya. Kamu boleh kecewa. Waktu menontonnya sudah selesai, sekarang kita bermain bersama.”
Gunakan kalimat singkat dan hindari berdebat ketika emosi anak sedang memuncak.
Perhatikan keseimbangan aktivitas
Selain durasi, perhatikan isi tontonan, pendampingan, dan apakah penggunaan layar mengurangi waktu tidur, bergerak, bermain, atau berinteraksi.
Orang dewasa juga dapat memberi contoh dengan menyimpan HP saat makan atau mengobrol bersama anak.
Mulailah dari satu perubahan kecil yang bisa dijalankan secara konsisten. Tujuannya adalah membangun kebiasaan digital yang mendukung keseharian keluarga.
Ingin anak Anda didampingi guru pendidikan inklusif di rumah?



